Tidak orang-orang Indonesia banyak di AS jadi saya sering ditanya oleh orang-orang: mengapa saya mencoba untuk belajar bahasa Indonesia?
Ada beberapa alasan.
Pertama, setiap kali seseorang menanyakan pertanyaan itu, saya menjelaskan apa alasan saya ingin belajar bahasa lain sama sekali.
Alasannya adalah tahun lalu saya membaca artikel yang mengatakan yang proses pembelajarannya bahasa lain memperlambat penuaan dari otak ketika seseorang mendapat tua.
Adalah benar bahkan ketika mulai belajar bahasa lain sebagai orang dewasa.
Saya berumur 39 tahun, demikian saya kuatir menjadi tua, lebih dari ketika saya masih muda.
Sebelumnya saya mencoba belajar bahasa-bahasa lain (termasuk bahasa-bahasa Belanda, Arab, Polandia, Swahili, Gael Skotlandia, Spanyol dan Latin), tapi dengan berbagai tingkat keberhasilan, dan sekarang saya mau melihat apakah bisa melakukannya lagi!
Kedua, saya tidak mau belajar sebuah bahasa yang orang-orang Amerika belajar biasanya, seperti bahasa Spanyol atau bahasa Perancis.
Penalaran saya adalah bahwa kalau saya pernah ingin cari pekerjaannya atau mendirikan perusahaan yang bergantung kemampuan saya dalam sebuah bahasa, saya tidak mau banyak-banyak persaingan.
(Benar-benar saya ingin belajar Spanyol, tapi tidak sekarang saja.)
Ketiga, saya memilih belajar bahasa Indonesia karena merupakan salah satu bahasa yang paling banyak digunakan di dunia seluruh.
Oleh salah satu perkiraan, ada lebih kurang 269 juta orang-orang yang bisa bicara bahasa Indonesia atau bahasa Malayu.
Bahasa Malayu dan bahasa Indonesia yang saling dimengerti.
Indonesia yang keempat negeri paling banyak penduduknya di dunia dan yang paling banyak penduduknya negeri yang muslim mayoritas.
Beberapa tahun lalu, firma investasi Fidelity mendaftarkan Indonesia sebagai salah satu "emerging markets" utama dengan Mexiko, Nigeria dan Turki (disebut "MINT" ekomoni-ekonomi).
Untuk alasan-alasannya tersebut saja, tampak nyata kepada saya bahwa bahasa Indonesia bermanfaat untuk belajar.
Akhirnya, saya tertarik dalam bahasa Indonesia karena negaranya itu hubungan dengan Belanda.
Saya sudah pertukaran pelajar di Utrecht di Belanda bertahun-tahun lalu dan saya belajar bahasa Belanda sementara ada.
Saya mengenal banyak kata-kata dalam bahasa Indonesia yang dipinjam dari bahasa Belanda.
Saya berpikir bahwa kemampuan saya untuk mengerti bahasa Belanda memungkinkan saya untuk belajar bahasa Indonesia lebih mudah.